Langsung ke konten utama

Buku-buku yang Menggoda: Seorang Kuli Bangunan

Ibu pernah berkata, bahwa Jodie Foster itu sama dengan Nurul Arifin. Setiap filmnya bagus-bagus. Mereka memang pandai bermain peran. Catat. Bukan berakting. Catat. Bukan berbohong.

***

Buku-buku itu juga sama," kata ibu. Atau ayah. Atau paman yang kolektor buku. Adik tiri ibu. Mereka semua berkata begitu.

***

Paman yang kolektor buku, berkata "Setiap buku harus dijaga, kalau perlu disimpan kembali ke lemari. Museum? Bisa jadi, bisa juga jika: setiap buku yang bertanda-tangan penulisnya, dilelang."

Maka aku pun menjaga buku-buku supaya tidak rusak.

Namun tanganku kapalan, akulah kuli bangunan yang disebutkan di judul itu. Tiap-tiap pekerjaanku berat. Tak ada yang sanggup di antara keluarga kami.

Kata ibu, waktu aku kecil, orang yang disebut adik tiri ibu itu pernah, menemukanku, di suatu tempat. Lebam sana-lebam sini. Biru-membiru-ungu.

Tidak. Tidak terlalu ungu. Namun biru. Orang-orang mulai menghebohkanku. Orang-orang yang kemudian pergi, melupakan pernah apa aku ini. Orang-orang yang datang, menganggapku Krishna.

Tapi apakah: Krishna yang di dalam novel itu, harus dijaga kertas-kertasnya. Supaya apa?

Namun lain, dengan kejadian sebelum adik tiri ibu itu, begitu ayah menyebutnya, yang menyuruhku untuk menjaga buku-buku.

Lain.

***

Aku mengisap cerutu Ramayana. Pahit. Tanpa rempah. Hanya daun yang dilipat-lipat. Entah daun apa. Tapi nyata: ia memberi semacam penglihatan padaku.

Penglihatan, yang kemudian membuatku menulis tulisan ini. Ya, akulah yang menulisnya! Aku yang menyebut bahwa paman kolektor adalah adik tiri ibu, bukan ayah. Aku!!

Puisiku, adalah puisi yang diwawancarai penyair bernama Finley Kile, puisi yang berkata: Ich finde es schwer, schöne Poesie zu machen denn Ich war kein großen Dichter und dies ist es, was Künstliche Dichter witless.

I can translate the caption, but what does the poem/writing say? kata Finley.

You can find it, @finleykile kataku di Instagram. Sebab puisi yang judulnya Dichter Experten ini, cyber-poem.

Dan demikian, aku menghisap cerutu Ramayana sambil mengarang kisah ini. Kisah yang kukatakan, bahwa Finley Kile bertanya apa arti dari puisiku.

Kujawab di internet, "Kamu bisa menemukannya."

***

Hari ini. Pertemuanku dengan Guru Telepati. Di Lubuk Alung, tempat ia berkampung halaman. Sudah pindah dari Jakarta. Kediamannya yang entah berantah.

Nenek sakit. Neneknya May, si anak Guru Telepati. Tapi May hanyalah May. Ia bukan, dan sama sekali, tidak mempunyai "Karl". Namun ia pencerita yang hebat untuk sebuah pembacaan puisi. Atau cerpen Eros dan Sayq.

Mengenai Eros dan Sayq, aku pernah membaca artikel tentang dewa cinta ini di internet. Di Wikipedia: Ensiklopedia Bebas. Bahwa, ibu Eros bernama Afrodit.

Afrodit yang telanjang, dada maupun bawah. Membuat hasrat remajaku kian menggejolak. Tapi tidak. Tidak seperti anak-anak rumahan yang kerjanya main game online, aku adalah pekerja.

Jadi kukira, percuma kubuang anak-anak eh, maaf, maksudku: percuma aku masturbasi. Sebab tenagaku akan habis dan lemas saat bekerja.

Mungkin, barangkali begitulah, alasan mengapa bangsa Indonesia ini pemalas. Sebab, alasan lanjutannya akan kuceritakan.

***

Soe Har To marah besar disebut begitu, ia maunya disebut Soeharto, eh bukan, maaf-maaf. "Suharto". Sebab Sukarno adalah Sukarno. Bukan "Soekarno".

Apakah begitu?

Tentu tidak. Soe Har To adalah orang yang sakit gula, entah sakit kencing batu, kata anaknya ibuku. Tapi tak mau menjadi abangku. Bukan sebab Soe Har To, tapi sebab ia maunya entahlah apa.

"Pantang aku disebutken sebagai Soe Har To!! Sebab aku adalah pewaris Sukarno Sang Pengganyang Soe Hok To, eh, Soe Hok Gie!! Penerus 'tuk merebut kemerdekaan 100% demi bangsaku."

Tapi bangsa adalah bangsa. Dan suku adalah suku. Di kampung halaman guru Telepati, ada 741 suku ditambah etnis semi-Tiongkok. Begitu pula di kampung halamanku.

Dan memang, di era 90an, rakyat-rakyat yang ditemukan bermata sipit, yang semi-Tiongkok maupun Tiongkok Tulen, diberangus. Diperkosa. Dihina-dina bagaimana pun caranya.

Eits! Eits!

Apakah maksudku dalam menulis cerita ini?

Adalah, bukan untuk dikaji para orientalis brengsek yang bakal meneruskan Hok Menohok, atau gaya berpakaian para pendekar gila 212, eh bukan, 313. Fans maupun totok.

Tidak. Aku tidak menerima, orang yang meneliti tubuhku adalah orang kulit putih. Aku inginnya, orang Arab-lah yang menjadi orientalis. Seperti Salman Rushdie, misalnya. Tapi dia telah diganyang Arab sendiri karena dinilai tidak bermatabat.

Aku bilang "tidak bermartabat" adalah untuk tidak diteruskan lagi. Itu kan bahasa sulit. Ya, kan? Jadi, lebih baik tidak memikirkan jenggot di burungnya Salman Rushdie.

Karena itu kontradiktif. Burung kok punya jenggot?

***

Setelah aku bertemu orang, namanya Max Lane, atau bisa dikatakanlah begitu. Max Lane ini orangnya gendut, dan memilih makan di KFC, Mc Donald atau Texas Chicken, daripada nasi bungkus bersama-sama di Bengkel Rendra.

Max Lane lebih memilih Stout-nya Guinness, daripada Bir Bintang. Atau kalau tidak ada pilihan sedikit pun, ia sobek tulisan "Bir Bintang", lalu digantinya dengan "Heineken".

Max Lane lebih suka Louise Fithone sebagai mantel hujan, kaus kaki, kemeja. Bahkan karet untuk memperbaiki jam tangan sekali pun.

Entahlah. Dan makanya, aku lebih memilih kata-katanya ada bahasa Inggrisnya. Biar pun tulisan ini jadinya, yah, barangkali sastra ringan. Roman picisan. Tapi asal tahu saja, Pramoedya Ananta Mastoer pun memakai ungkapan seperti "Meneer" hingga "Juffrouw" di novelnya yang paling brilian.

Tapi sayang diterjemahkannya sama Max Lane.

***

Jujur saja, di lain sisi, yaitu pada bagian fisik buku, aku lebih memilih yang bekas pakai. Entah itu hasil lap tisunya Robert Galliabrain yang habis onani, atau apa, terserah. Pokoknya buku yang sudah bekas. Titik.

Supaya aku tak perlu khawatir, tanganku yang kapalan ini merusak kertasnya yang prawan, dan tinta-tintanya yang jejaka hitam.

Apakah ada jejaka biru? Sebab ada tinta biru, mah! Tentunya bisa jadi. Tapi mungkin lain konteks.

Sampai disini saja tulisanku, selamat malam (eeh, ini sudah jam berapa? Waduh! Busyet!! Jam lima lewat lima puluh!! Gila. Aku harus sholat Subuh.

Betanggang semalaman.

Selamat tidur.

Komentar

  1. saya suka cara anda berpikir dan menuangkannya dalam tulisan. keep up the good work!

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Orde Milenial: mengenang seorang perempuan bernama Gadis Siput, chapter 1

Saat itu di Leiden, musim panas akan kembali ke sini jika hujan memilih berhenti. Aku di sebuah toko kopi yang mengingatkanku pada masa lalu. Masa laluku dengan seorang perempuan bernama Deka, gadis yang datang setelah berkali-kali kunikmati lagu "Fox Rain", dan kututup dengan lagu "Jangan Ajak-ajak Dia" dibarengi guling yang baru kubeli.Guling ini, ada boneka di jahitan atasnya. Boneka telepon khas drama film kartun One Piece, bentuknya lucu, seperti siput. Cih! Lagi-lagi ini mengingatkanku pada Deka, yang saat itu ingatan tentang wajahnya kuabadikan di esay "Once Upon a Time ini Yos Sudarso". Esay bersambung yang dilanjutkan dengan "After Yos Sudarso" serta "Gadis Siput Upset".Hmm.Tadi pagi, Bang Hen menelepon, dia menanyakan keadaanku dan aku bertanya tentang keadaan keluarga di West Sumatra. Daerah kelahirannya. Rumahku. Kampung halaman yang selalu saja memanggil-manggil untuk pulang. Berkali-kali aku nyaris tersandung dan hampir j…

Latar Belakang si Puella Roris

Pada Epilog, orientalis berkata bahwa dia tidak suka budaya Minang. Padahal sebaliknya, ia justru heran, karena para pemikir cemerlang Indonesia mayoritas berasal dari daerah tersebut. Dan "heran", tentu karena ada rasa ketertarikan.Orang-orang Minang, menjalani hidupnya di antara Badai Kegelisahan serta Kutukan Waktu. Kutukan Waktu, adalah yang membuat mereka selalu santai dalam bekerja. Menjalankan hari-hari mereka.Saya sempat merasa bahwa ini adalah semacam sifat malas, yang terbudaya dalam diri orang Minang. Keburukan-keburukan selain mereka yang menyenandungkan lagu-lagu kesedihan sebagai seni, serta turut mengaplikasikan seni tersebut dengan mengejek dan menertawakan orang memakai lagu-lagu itu. Misalnya ketika ada orang yang memakai bahasa Indonesia dengan aksen formal, terkesan dari Jakarta, dan penampilannya sangat rapi dan bergaya, tapi tak pernah sedikit pun mencoba bahasa Minang; mereka akan menyanyikan lagu Takicuah di Nan Tarang (semacam lagu bertema orang-oran…