Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2018

Di Depan Singgasana Kecantikan

K, untuk "kecantikan" dan K untuk "kehidupan".Aku melihat hangatnya Samudera Antanamo yang mendidih dan bergejolak terbakar cahya men
tari pagi ituAku melihat Batman dan Wong Assoy jatuh bangun dalam perkelahian tempur mereka, aku dan melihatK duduk menungguku di ujung sana, sambil menyisir rambutnya dengan jari-jemarinya send
iri dantanpa aku

Mungkin Ini Puisi

Hai, Ma" oleh Rendra sangatlah menyentuh hatiku. Dan ibuku menangis dibuatnya, namunBila kutitipkan angsa dan kawanannya seperti domba dan anjing putih, kukira aku tak lagi mau berharap banyakLion Air dikabarkan tak profesional bagi pesawat sperti-sepemerti dia. Lion Air dinaiki Ibu yang tak mau tau soal itu, ia lebih memilih mendengar celotehan kawannya, ya, seperti angsa itu,Daripada akuMaka tak jua kudengar omongan Ayah yang menyuruhku berhenti melihat api bekerja

Sepertinya Aku Akan Buat Puisi Lagi

Mungkin aku akan membuat puisi lagi. Ya, harus. Bukan hanya disebabkan karena tanganku pernah menuliskan sajak, namun sebab K suka dengan puisi-puisiku. Termasuk mengenai Gadis Siput, adalah barangkaliAtau dia cemburu? Mangkanya tiada menghubungiku, seperti lagu "Dengan Caraku",Tak mengerti, mengapa engkau membisu
Dering darimu tak ada lagiOleh Jodie dan entahlah siapa. Dan, apakah aku hanya sehanya memperhatikan prempuan sahaja.. . sepertinya tidak begitu. Hanya, K terlihat jauh lebih cantik dari siapa pun yang pernah kulihat, termasuk ibuku, K jauh lebih cantik dan hangatPagi itu, kusempatkan menitipkan naskahku padanya. Pagi itu, dia yang membuatku jadi pengecut dan tak setangguh yang dulu--karena dia yang menyapaku duluan, dan hati ini sangatlah ciutYaitu, di hari-hari setelah aku menyatakan cinta dan tubuh ini sangatlah letih dibuatnya

Marlboro Merah

Di sidang diskusi anak-anak fotografi, aku teringat mamak pamanku. Rohmantik penyair Irman Syah nan pernah beribogem ke seorang akitor yang songong, di saat akitor lelaki itu memainkan "Di Bawah Lindungan Ka'bah"Aku memantik diskusi dengan buku Rendra dan Tan, diskusi mengenai pameran nan 'kan dilakukan oleh merekaism yang kudatangi kali ini, di luarDi luar. Nan Tumpah kelompok seniku yang dahulu, bermain petak umpat.

Gadis Siput Ending

Kau tahu, Deka? Jarak memang membataskan kita. Dan waktu? Hmm. Apalagi waktu.Kisah hidup orang membuat kita semakin kuat dan tabah, begitu pula dengan kisah hidup masing-masing.Aku tahu kau sudah tak lagi marah padaku. Tapi. Aku saja yang malu, pada diriku sendiri, mempermainkanmu di saat itu. Kini, terbayang sudah rasa sakitmu. OlehkuNamun, Deka. Bukan aku mau memiliki atau merebutmu, tidak. Cukuplah kisah itu kita simpan di hati kita masing-masing, memeluknya sendiri-sendiri. Kau dan aku pun sudah dewasa, kiniAku hanya ingin memaafkan segala kelakuan yang kuperbuat sendiri, padamu dan padaku. Kuharap kau juga bisa begituWarmest Regards,
E

Cies Ibuku

Beliau selalu berkata bahwa aku ini anak baik. Tapi aku mau apa? Ada juga orang yang tak suka aku. Begitu pun dirimu kan, K? Malam ini, saat kutunggui dirimu di bawah saung beratap rumbia itu, kau tak datang. HujanApa karena hujan itu kau tak jadi menyinggahiku? Aku mau saja salahkan sajadah yang tak pernah mengantarku seperti mengantar Abu Nawas ke permukiman raja-rajaDan perlu kau tahu, K, bahwa aku percaya kau memang untukku. Selayak ibuku percaya akulah anaknya.

Ternyata Kau Adalah Dia (sebuah catatan tentang cinta)

- untuk KKau memang bukan pertama dari yang pertama, dan bukan pula yang menyentuh ubunku nan acapkali kucuci dari darah keistimewaan.Entah ini puisi, tapi menurut Penyair Bram, menulis jangan dipikirkan apa, namun bagaimana. Dan seorang paman nan datang dari jauh yang t'lah kulepaskan bulu-debu rindu padanya, berkata bahwa aku harus menulis.Barangkali ini bukan puisi, sebab keniscayaan itu rasanya tiada lagi setelah kau berkata bahwa kau mencintai pepuisi-puisianku. Puisi! Bukan aku!Ini, ada sebuah titipan yang kukerjakan saat berjalan-jalan bersama Ayah di ibukota provinsi.. . Datanglah, biar kukasi nanti

Beberapa Alternatif dari Judul Kealihbahasaan dari Syair Dalam Sekam

Selamat sore semuanya!Di dalam kesenjaan dari berbagai tukang sajak di Indonesia, sahaya pengen melampirkan one ofsecret project sahaya untuk bulan Agustus hingga September ini. Yakni penerjemahan puisi dari seorang sahabat tua sahaya, Penyair Bram. Atau bernama lengkap Muhammad Ibrahim Ilyas. Beliau sudah terbilang berpengalaman di dunia seni, khususnya literatur tinggi seperti teater dan pensyairan--ya, "pensyairan", karena saya ingin menyinggung tren yang sedang populer ributnya di kalangan pencinta sastra dan pendidikan negeri ini--dan telah menerbitkan sejumlah catatan, yakni Ziarah Kemerdekaan dan Syair Dalam Sekam.Mulai dari hari ini, Rabu 1 Agustus 2018, saya sudah terikat kontrak dengan beliau. Meski dalam keadaan galau.. . yahh, biasalah anak muda, galaunya pasti karena masalah di lingkaran-lingkaran itu saja. Tapi, Penyair Bram ini ibarat Bang Muluk di Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck-nya Hamka. Ia segera menyetujui proyek ini dan berkata pada saya, "Oke.&quo…

Aku Tahu Aku Mau Apa (cerpen)

I can't write a good letter
B'coz I'm not a professional writer
and like these a letter
witch not made from professional writer - Dichter Experten @ Aku tak bisa menulis dengan bagus
Sebab bukan seniman kata-kata beneran
dan seperti inilah puisi
penyihir tidak tercipta dari penulis profesional - Penulis Expert @ "Penulis Expert" atau "Dichter Experten", segera kirim ke Media Indonesia, Koran Tempo dan Kompas sekaligus. Hari-hari setelah di Senin ini aku pergi melewati gerbang SMP Alam Minangkabau, bergegas berjalan. Menunggu hari Selasa. Menunggu Rabu, Kamis, Jum'at, Sabtu, Minggu. Bulan-bulan baru. Tahun-tahun selanjutnya. Di warnet, kuaktifkan akun surelku, vellesazephi@gmail.com dengan pasword ************* dan mengambil data untuk kemudian dilampirkan dan dikirim ke opini@kompas.com dan lain-lain. Sekaligus, supaya jika media satu menolak, ada kemungkinan diterima media lain. Kalau langsung diterima, misalnya oleh Kompas, tinggal kasih kabar ke Kor…

Legenda Gadis Siput

Konon yang paling terkonon, di antara segala kekononan di kisah-kisah duniawi paling sentimentil, Gadis Siput telah terlahir dan memang dilahirkan untuk si petani. Yang menemukan dan menyelamatkan. Yang membawanya pulang ke rumah. Lalu. Ada yang memasakkan dan menghidangkan kaldu secara diam-diam. Tanpa sepengetahuan si petani bahwa Gadis Siput pandai memasak.Bahwa Gadis Siput bukanlah siput biasa.***Akhirnya si petani yang manusia biasa pun menjadi tua dan renta, dan kemudian wafat. Meninggalkan Gadis Siput yang usianya ditakdirkan lebih panjang.***Gadis Siput menangis sendiri. Kemudian air matanya habis dan ia menjadi buta. Ia juga tak bisa melihat lagi wajah si petani di ingatannya. Sekali pun di ingatannya.***Gadis Siput wafat dalam keadaan rindu yang menggebu-gebu.***Tersebar berita tentang sebuah jasad wanita cantik yang tergeletak tak bernyawa di dekat kuburan si petani.***Si petani dilahirkan dalam berbagai bentuk kali lipat atas reinkarnasi yang terus berulang selama tujuh ka…