Langsung ke konten utama

Dimensi Murakami, "Kafka On the Shoes" (22)

Eva betul-betul demensia.

Ia menganggapku sebagai pacar gelapnya karena anak itu, Byoma, yang dikiranya, walau memang tanggung jawabku, tapi Byoma dikiranya akan marah benar-benar.

Tapi Eva berkelit, ia sembunyi di balik sepatu, eh maksudku, di dalam kardus mie instan bermerk "Kafka".

Ia memang agak-agak seperti itu.

Kardus mie instan kubawa ke dalam bagasi pesawat, saat petugas tanya "Kamu bawa boneka bidadari?" kujawab iya.

Dan saat petugas lain menanya, "Kamu bawa lukisan Monalisa, eh, buku Mati Mona, ya?" kujawab iya, eh enggak - eh iya.

***

Eva, aku tahu kau bosan dalam bagasi, tapi sabar ya, Sayang?

***

Di pesawat aku membaca majalah, disana tertulis: "NASI" Naifnya Amerika untuk Sastra Indonesia.

Buku-buku John Green adalah kemerosotan Indonesia dalam budaya populis.. kubaca sebentar bagian awalnya.

Tapi.

Aku enggak enak sama Eva, dia sudah mau jauh-jauh pakai dus di bagasi ke Padang, malah kubaca berita brengsek itu.

"Kepala bapakmu!!" kataku ke khayalan redaktur majalah tersebut.

***

Tapi ketika aku turun, Eva salah jalan, dus Kafka terbawa pesawat ke Massachusetts, Amerika.

Aku tak ingin membayangkan ke-busung lapar-an Eva saat ia dikembalikan, oh betapa payah bahasanya, kepadaku. Jadi kutelepon dia;

"Halo?"

"Kepala bapakmu!!" kata Eva.

"Iya.. Maaf..,"

"Kepala bapakmu!! Masa aku harus kembali??"

"Uh.. oh.."

***

Aku tak jadi mencetak Naskah Tersebut.

Soalnya aku sudah janji ke redaktur, yang biar pun independen, sudah syukur begitu --bahwa naskah yang baru terbit akan langsung dibawa untuk diterjemahkan.

Eva bilang "Masa aku harus kembali.." kupikirkan terus, sampai aku melihat Eva di wajah semua perempuan. Yang ketika kukejar buat kudekap, mereka akan lari--

***

Kupikirkan terus, sampai aku harus melihat seorang Evaliani diperkosa seorang pemuda.

Sampai kulihat seorang Evaliani sangat menikmatinya.

***

Sampai, sebuah meteor jatuh. Ke arah Indonesia, eh, Jakarta.

***

Kudengar desas-desus bahwa komet itu akan menghancurkan istana presiden Sarmin.

Desas-desusku adalah majalah, televisi, bahkan buku sastra yang mengutuk-ngutuk pemerintah.

***

Karena suatu alasan, sastra, aku ikut bergabung dalam Pasukan Kerelawanan Rawan Indonesia.

Dadaku sesak. Sebab merindukan Eva serta push-up merokok--

***

Tapi biar pun keseluruhan ototku belum siap, aku Telah Dipanggil.

***

"Siap! Grak!"

"Ini proposalnya, Bos, eh, Komandan.." kata seseorang yang baru saja berlari dari kantor. Mengetik di selembar tisu.

***

Tak hanya di Jakarta dan Jogjakarta, kata penutur berita berdada kemeja merah sedikit terbuka, Menurut para ilmuwan dan intelektual jenis lain, eh, intelektual lainnya: Peristiwa Puella Roris Akan Segera Mendatangi Tiap-tiap Rumah.

Dan ini tak hanya di Indonesia.

Ini akan terjadi, segera, menyebar ke Asean, sampai di Asia hingga ke senyawa yang disebut Halo, Efek Jengis, Khan? atau dalam bahasa Inggris disebut Hello! Genghis Effect, Don't You senyawa tersebut menciptakan ledakan mahadahsyat yang dapat sampai ke seluruh bumi.

***

Peristiwa Puella Roris; harga mati!

***

"Eva.." kataku, suatu malam di telepon.

"Ya?" ia menjawab datar.

"Maafkan aku."

Telepon ditutup.

***

Berkali-kali. Berkali-kali kucoba telepon dengan, tahulah, biaya operator yang lumayan untuk makan satu bulan.

Barulah ketika ibu, karena aku sudah di rumah dan pulang, ibu berkata "Ajak dia kesini, rendang Rajo-rajo enak sekali!"

***

Mana tahu, Eva itu?

Eva tak ahli dalam basa-basi, ia jujur dan tegas sehingga tak mampu capek-capek untuk hanya membayangkan bau rendang.

***

Tapi aku harus mencoba.

"Eva,"

"Ya?"

"Kamu ingat enggak, sama bau Cerutu Ramayana-ku?"

"Cerutu Ramayana?"

"Aku udah enggak ngerokok lagi." sedangkan, mulutku masih bau asap, bekas merenung a la Jawa tadi pagi.

"Maksudnya apa, tolong jelaskan!"

"Aku cuma ngerokok di hatimu."

"What..-?-"

***

"Enggak! Itu cuma becanda.."

"Oh.." katanya, "Aneh juga cara becandamu."

"Itu biasa. Jokowi pun melakukannya.."

"Jokowi? Siapa Jokowi?"

Jokowi, siapa Jokowi--

***

Sarmin, tunggu dulu, berarti. Berarti, aduh! Berarti apa, ya..?

***

Lalu, di sebuah distrik yang disebut Agam, berdiri sebuah perpustakaan lisan yang disebut Istana Egaliter. Kebetulan, mereka sedang membahas masalah ini juga--

Istana Egaliter, pagi itu, didatangi oleh segerombolan "NASI" eh, belum tapi sebaliknya, segerombolan fans Komunis Islam yang menyebut diri ke orang-orang bahwa mereka bukan "komunis"!

Orang-orang Istana Egaliter yang sedang ngopi, merokok kretek tapi juga ada rokok putih, kebetulan juga membicarakan masalah ini. Mereka menjuluki Puella Roris bukan begitu, sebab itu nama asing, mereka menjulukinya Inyiak Putih.

Orang-orang Istana Egaliter bersalam-salaman disana, mereka pun secara kebetulan hendak mendiskusikan film Tan Malaka.

Tapi Ben, seorang di antara fans Komunis Islam, berkata bahwa sebaiknya kita diskusikan saja masalah utamanya dulu.

***

Mereka berdiskusi.

***

Mereka egaliter.

***

"Aku tahu caranya." kata seorang bule bernama Buz. Bule yang berasal dari buncahan gerombolan fans Komunis Islam tersebut.

"Maksudmu? Kita gunakan sistem Lenin??"

"Tunggu sebentar!!" kata Ben, lagu dangdut Minang Takicuah di Nan Tarang mengalun di ponselnya.

Ia pergi keluar ruangan, menelepon seseorang.

***

"Tidak. Berbeda sekali, justru. Kita harus gunakan buku Madilog Menurut Islam.."

***

Para peneliti menyarankan agar mengenakan Madilog agar dibuat 'tuk merancang Bima Satria Garuda.

***

Grup-grup internasional mulai membicarakan proyek tersebut.

***

"Bima Satria Garuda itu sebenarnya apa..?" kata seorang gaek bernama Shotaro Kotaro, seorang seniman Jepang. Dibalas oleh seorang Guru Finlandia;

"Kurasa..-" belum selesai Guru Finlandia itu menjawab, sudah dipotong oleh Duke Trump, "Itu adalah Iron Man."

Aktivis kemanusiaan.

Aku di pesawat ketentaraan. Dunia dalam bahaya sebahaya-bahaya yang serius.

Kata Tan Malaka, "Mereka harus duduk di singgasana di belakang presiden Indonesia. Bila negara-negara ingin memegang kendali dunia."

Lihat.

Hutan-hutan dibakar, eh, terbakar tidak sengaja--

Dan.

Jikalau ini Hollywood, maka Will Smith akan memegang bedil dan bertempur sebagai orang Papua.

***

Di pesawat ini, para pejuang duduk secara vertikal, jika aku regu 1, aku bersebelahan dengan regu 1 juga. Di sisi kanan-kiriku.

Lalu di depan kami regu dua. Dan di antara regu dua itu, ada seorang perempuan yang sangat mirip denganku. Tapi entah harfiah atau kiasan.

***

Lama kami duduk seperti itu. Aku sampai tersadar tentang keberadaan tas parasut di belakang punggung masing-masing.

Dan Orang yang Mirip Aku, aku tak bisa berhenti untuk tak menatap wajahnya.

***

Akulah, Orang yang Mirip Dia.

Kedua matanya kelayapan, selama berjam-jam, di sekitar wajahku. Sampai aku jadi gelisah, aku cari-cari kegiatan 'tuk menghapus gangguan-gangguan ini.

Aku berbicara pada seorang di sebelahku, yang rupayanya sedang mengobrol dengan pejuang lain. Aku berkata apa yang terlintas di pikiranku, seperti kecemasan saat turun nanti memakai parasut--

Perempuan di Sebelahku, akhirnya mau meladeniku mengobrol.

Dia berasal dari suatu tempat yang disebut Edgartown atau secara kekonyolan komik Meme Indonesia, disebut Kampung-Edgar. Tempat itu terletak di Massachusetts, Amerika Serikat.

Aku tak tahu.

Dia sebut tempat itu dingin. Tempat dengan pemandangan yang sangat-sangat membikin rindu, Rindu Ditepuk Teman Sebahu.

Aku menceritakan soal kampung halamanku di Thailand. Tapi kurasa dia hanya pura-pura tertarik, dan kupilih untuk tidak meneruskannya--

Sampai akhirnya aku tahu, ada kegalauan mendalam padanya ke Indonesia.

Tentang seorang laki-laki, kukira.

***

Datanglah, Eva." kata Velly.

"Datang dan bebaskanlah aku."

Dari kandang ayam yang memenjarakanku dengan kerinduan, yang ketika kutatap Rindu Itu, ia mewajah jadi bawang merah, yang ketika kukupas--

Memiliki berlapis-lapis Rindu Itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buku-buku yang Menggoda: Seorang Kuli Bangunan

Ibu pernah berkata, bahwa Jodie Foster itu sama dengan Nurul Arifin. Setiap filmnya bagus-bagus. Mereka memang pandai bermain peran. Catat. Bukan berakting. Catat. Bukan berbohong.
***
Buku-buku itu juga sama," kata ibu. Atau ayah. Atau paman yang kolektor buku. Adik tiri ibu. Mereka semua berkata begitu.
***
Paman yang kolektor buku, berkata "Setiap buku harus dijaga, kalau perlu disimpan kembali ke lemari. Museum? Bisa jadi, bisa juga jika: setiap buku yang bertanda-tangan penulisnya, dilelang."
Maka aku pun menjaga buku-buku supaya tidak rusak.
Namun tanganku kapalan, akulah kuli bangunan yang disebutkan di judul itu. Tiap-tiap pekerjaanku berat. Tak ada yang sanggup di antara keluarga kami.
Kata ibu, waktu aku kecil, orang yang disebut adik tiri ibu itu pernah, menemukanku, di suatu tempat. Lebam sana-lebam sini. Biru-membiru-ungu.
Tidak. Tidak terlalu ungu. Namun biru. Orang-orang mulai menghebohkanku. Orang-orang yang kemudian pergi, melupakan pernah apa aku ini. Orang-or…

Latar Belakang si Puella Roris

Pada Epilog, orientalis berkata bahwa dia tidak suka budaya Minang. Padahal sebaliknya, ia justru heran, karena para pemikir cemerlang Indonesia mayoritas berasal dari daerah tersebut. Dan "heran", tentu karena ada rasa ketertarikan.Orang-orang Minang, menjalani hidupnya di antara Badai Kegelisahan serta Kutukan Waktu. Kutukan Waktu, adalah yang membuat mereka selalu santai dalam bekerja. Menjalankan hari-hari mereka.Saya sempat merasa bahwa ini adalah semacam sifat malas, yang terbudaya dalam diri orang Minang. Keburukan-keburukan selain mereka yang menyenandungkan lagu-lagu kesedihan sebagai seni, serta turut mengaplikasikan seni tersebut dengan mengejek dan menertawakan orang memakai lagu-lagu itu. Misalnya ketika ada orang yang memakai bahasa Indonesia dengan aksen formal, terkesan dari Jakarta, dan penampilannya sangat rapi dan bergaya, tapi tak pernah sedikit pun mencoba bahasa Minang; mereka akan menyanyikan lagu Takicuah di Nan Tarang (semacam lagu bertema orang-oran…

Derai-derai Kayu Cemara di Suatu Tempat di Norwegia

Bung, merokok hidung itu, seperti berhadapan dengan hantu." kata Datuk Inyo yang Terbuang, sambil menggaruk-garuk kepalanya yang botak.Benar saja, ketika aku pertamakali berhadapan dengan hantu, itu sudah lama sekali, sebenarnya, ada perasaan seperti membakar cerutu lalu asap yang dihisap itu dihembuskan melalui hidung.Terkadang, jika kita sudah terbiasa mengepulkan asap dari hidung, terkadang dia akan terasa tidak terlalu sakit. Tapi pada mulanya, justru sangat berbeda.Seringnya, akan pedih bukan main ketika asap itu tidak terbiasa, melewati dua lubang pernafasan. Dua sekaligus dengan pedih yang memedihkan serta sangat serius.Ada kalanya pula, asap yang mau dihembus-hidung, seperti keluar lewat mulut. Secara biasa. Dan itulah kretek, dia hidup lewat rasa rempah-rempah. Khas negeri terjajah, sensasi dan cita rasa internasional.***Agam, kakakku satu-satunya, yang Indigo, selalu dengan keterbatasannya yang tidak sehebat anak-anak Kristal; yang selalu mengerti dan teratur, tertib da…