Langsung ke konten utama

Litak cerpen bola-bola West Sumatra, Litak yang menggambarkan Litak keadaan daerah, Litak yang sosialis Litak adalah paham wong Litak cilik Litak yang Litak dikarang Litak anti-Manchester United

"Harus West Sumatra! Nggak boleh Sumbar!! Apalagi Sumatra Barat: haram! Haram jatuhnya!!"

Begitulah, kata-kata Datuk Inyo yang Terbuang, yang berkumis tipis dan berkepala botak; meski ada sedikit rambut tipis di kepalanya. Dia bilang itu tahalul, supaya bisa masuk MU atau Nurdiniyah.

Kedua kelompok itu memang sudah terkenal, jauh di luar sana, di suatu tempat nan disebut Jepang van Indonesia, nan para pengikut kedua sekte populer seperti ada seorang, Sufi Bin Tele. Kabarnya, ia banyak menulis puisi di internet dan mendapat sambutan hangat dari para sastrawan koran-koran nasional.

Selera memang selera." pernah satu kali, kawan Datuk bernama Tedi Hutan, nan tubuhnya penuh jamur dan koreng. Mengingatkanku pada tulisan Eropa, entah siapalah namanya, yang berjudul kira-kira: Cinta Sekalipun Kolera.

Penulis yang sedang naik daun, bernama Eka pun, segan pada Penulis Kolera ini, entah tulisan itu dikatakan Eka sebagai puisi atau novel epik, tak jelas kudengar waktu Eka mengobrol dengan penuh rendah hati.

Eka kabarnya, tersebar gosip-gosip antara induk ke induk, bahwa dia sedang digilai karyanya oleh para orang Eropa. Bahkan ada yang menjiplaknya, walau segan, jadinya penulis itu memakai nama samaran yang Sukarnois, eh bukan, mohon ampun salah tulis --yang nama samarannya agak-agak Indonesianis.

Tapi Datuk Inyo yang Terbuang, pantang kalah. Dia pun menulis sebuah nobel, eh, novel yang bercerita tentang politik dan legenda West Sumatra, eh bukan, Sumbar yang lebih "kekinian". Ceritanya juga dipadu dengan silat, dan Diansastro ikut membeli dan membacanya, kebetulan aku ketemu Diansastro yang seorang tokoh feminis ini, di toko buku berpaham "ikut-ikutan Kapitalis".

Dan kebetulan pula, aku juga bertemu dengan Maks Beber, yang merupakan kaum minoritas di negaranya yang ortodok. Maks Beber, yang pada saat aku ulang tahun dia datang dan membawa kue aneh yang ia bilang, ini namanya Kue Besi Kopimisme.

"Kopimisme?" aku baca di internet, ternyata adalah sebuah paham yang agak unik, tapi aku tetap tak bisa menjelaskan padamu tentang bentuk Kue Besi Kopimisme ini. Kuenya betul-betul aneh!!" pujiku untuk Maks.

Lalu, siapakah aku? Nanti akan kujelaskan, pelan-pelan saja. Mengapa cepat-cepat? Kita harus santai, slow bahasa Inggrisnya "selow" bahasa West Sumatra.

***

Kawanku, namanya Tedi Ramnez, adalah penggiat musik Raggae Minang, yang tinggal, terakhir kali itulah rumahnya, di sebuah pelosok yang berada di antara jalan ke kota Bukittinggi, sebuah kota yang mirip Jerman entah Inggris, maklumlah! Saya lupa dengan diri yang bereinkarnasi dan merantau ke tempat tersebut.

Pelosok antara Bukittinggi dengan ibukota West Sumatra. Padang, kota yang mulai berontak se-Aku-nya penyair Binatang Jalang itu. Entah kenapa, sehingga Datuk Inyo nan Terbuang, mulai dihasut oleh orang-orang kelompok Sufi Bin Tele, dengan cara menjanji-janjikan kehormatan dari kepopuleran bagai Eka yang terkenal itu.

Dan begitulah, nasib Datuk Inyo nan Terbuang, menghadapi janji-janji a la para Tikus-tikus Pemerintahan. Padahal Datuk Inyo nan Terbuang, sama sekali tidak hidup dengan cara Eka yang, justru menentang MU dan Nurdiniyah dan mungkin jika mengenal pola pikir para kelompok Tuanku Imam yang Menghilang, Eka pasti akan melewati penahbisan, eh bukan, mohon ampun Gusti! Sahaya cuma ingin menulis: jika Eka tahu adanya paham yang bercita rasa internasional, dari para kelompok pengikut Tuanku Imam yang Menghilang. Jika Eka masih hidup di masa Uang Lima Ribu Rupiah sebelum orang-orang pengikut Jepang van Indonesia, yang malah sebenarnya terkatung-katung, atau mengawang-awang antara NU, eh salah tulis, antara NU dengan Nurdiniyah-nya Jepang van Indonesia tersebut.

Eeh, salah tulis, bukan NU, tapi MU. Manchester United.

Ya, kamu pikir apa? Datuk Inyo yang Terbuang kan di Padang, berarti bahasa litak, adalah "penat". Jadi orang itu harus diberi kasur dan bantal empuk. Bukan seperti di Bukittinggi, litak berarti lapa. Lapa, yang di Bukittinggi sendiri, di sebuah kedai distro keren bernama Paris van Java, yang orang-orang disana lebih memilih memajang foto Sukarno daripada Tan Malaka. Sebab katanya takut Pihak Pusat marah dan memberondong distro tersebut dengan pistol. Pistol apa? Pistol air? Entahlah, ya.

"Sebab orang Pihak Pusat kami, di sebuah kawasan fans Manchester United yang berkeyakinan Nurdiniyah, seperti para sufi yang salah satunya Sufi Bin Tele, akan segera menghisap uang-uang, eh, pahala-pahala kami semua. Mereka akan, yah, begitulah-- mereka tak peduli apakah Tan Malaka adalah anggota yang ikut mendirikan Nurdiniyah dulu atau tidak.."

***

Komintern: kami menolak Pan-Islamisme. Biarlah Tan Malaka tak jadi bagian Komunis mana pun, toh, ia adalah binatang. Yaitu: K-E-R-B-A-U.

Orang-orang di Komintern itu tak peduli, mereka sibuk dengan negara masing-masing sambil makan olahan susu sapi. Mereka tak peduli Orang-orang West Sumatra yang Lapa, meski di Bukittinggi arti "lapa" adalah sindiran orang-orang yang lapar di restoran, saat salah satu dari mereka makan rakus. "Iya lapa sekali orang ini, eh?"

***

Datuk Inyo yang Terbuang, maka begitulah namanya. Dari sebuah nama biasa menjadi bergelar yang penuh dilematis.

Namun, itu tak menyusutkan semangat pascakolonial-nya, sehingga di koran-koran lokal, tersebutlah bahwa, "Datuk Inyo yang Terbuang: Kita Harus Mengikuti Sjahrir!"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buku-buku yang Menggoda: Seorang Kuli Bangunan

Ibu pernah berkata, bahwa Jodie Foster itu sama dengan Nurul Arifin. Setiap filmnya bagus-bagus. Mereka memang pandai bermain peran. Catat. Bukan berakting. Catat. Bukan berbohong.
***
Buku-buku itu juga sama," kata ibu. Atau ayah. Atau paman yang kolektor buku. Adik tiri ibu. Mereka semua berkata begitu.
***
Paman yang kolektor buku, berkata "Setiap buku harus dijaga, kalau perlu disimpan kembali ke lemari. Museum? Bisa jadi, bisa juga jika: setiap buku yang bertanda-tangan penulisnya, dilelang."
Maka aku pun menjaga buku-buku supaya tidak rusak.
Namun tanganku kapalan, akulah kuli bangunan yang disebutkan di judul itu. Tiap-tiap pekerjaanku berat. Tak ada yang sanggup di antara keluarga kami.
Kata ibu, waktu aku kecil, orang yang disebut adik tiri ibu itu pernah, menemukanku, di suatu tempat. Lebam sana-lebam sini. Biru-membiru-ungu.
Tidak. Tidak terlalu ungu. Namun biru. Orang-orang mulai menghebohkanku. Orang-orang yang kemudian pergi, melupakan pernah apa aku ini. Orang-or…

Latar Belakang si Puella Roris

Pada Epilog, orientalis berkata bahwa dia tidak suka budaya Minang. Padahal sebaliknya, ia justru heran, karena para pemikir cemerlang Indonesia mayoritas berasal dari daerah tersebut. Dan "heran", tentu karena ada rasa ketertarikan.Orang-orang Minang, menjalani hidupnya di antara Badai Kegelisahan serta Kutukan Waktu. Kutukan Waktu, adalah yang membuat mereka selalu santai dalam bekerja. Menjalankan hari-hari mereka.Saya sempat merasa bahwa ini adalah semacam sifat malas, yang terbudaya dalam diri orang Minang. Keburukan-keburukan selain mereka yang menyenandungkan lagu-lagu kesedihan sebagai seni, serta turut mengaplikasikan seni tersebut dengan mengejek dan menertawakan orang memakai lagu-lagu itu. Misalnya ketika ada orang yang memakai bahasa Indonesia dengan aksen formal, terkesan dari Jakarta, dan penampilannya sangat rapi dan bergaya, tapi tak pernah sedikit pun mencoba bahasa Minang; mereka akan menyanyikan lagu Takicuah di Nan Tarang (semacam lagu bertema orang-oran…

Derai-derai Kayu Cemara di Suatu Tempat di Norwegia

Bung, merokok hidung itu, seperti berhadapan dengan hantu." kata Datuk Inyo yang Terbuang, sambil menggaruk-garuk kepalanya yang botak.Benar saja, ketika aku pertamakali berhadapan dengan hantu, itu sudah lama sekali, sebenarnya, ada perasaan seperti membakar cerutu lalu asap yang dihisap itu dihembuskan melalui hidung.Terkadang, jika kita sudah terbiasa mengepulkan asap dari hidung, terkadang dia akan terasa tidak terlalu sakit. Tapi pada mulanya, justru sangat berbeda.Seringnya, akan pedih bukan main ketika asap itu tidak terbiasa, melewati dua lubang pernafasan. Dua sekaligus dengan pedih yang memedihkan serta sangat serius.Ada kalanya pula, asap yang mau dihembus-hidung, seperti keluar lewat mulut. Secara biasa. Dan itulah kretek, dia hidup lewat rasa rempah-rempah. Khas negeri terjajah, sensasi dan cita rasa internasional.***Agam, kakakku satu-satunya, yang Indigo, selalu dengan keterbatasannya yang tidak sehebat anak-anak Kristal; yang selalu mengerti dan teratur, tertib da…