Langsung ke konten utama

Postingan

Di Depan Singgasana Kecantikan

Postingan terbaru

Mungkin Ini Puisi

Hai, Ma" oleh Rendra sangatlah menyentuh hatiku. Dan ibuku menangis dibuatnya, namunBila kutitipkan angsa dan kawanannya seperti domba dan anjing putih, kukira aku tak lagi mau berharap banyakLion Air dikabarkan tak profesional bagi pesawat sperti-sepemerti dia. Lion Air dinaiki Ibu yang tak mau tau soal itu, ia lebih memilih mendengar celotehan kawannya, ya, seperti angsa itu,Daripada akuMaka tak jua kudengar omongan Ayah yang menyuruhku berhenti melihat api bekerja

Sepertinya Aku Akan Buat Puisi Lagi

Mungkin aku akan membuat puisi lagi. Ya, harus. Bukan hanya disebabkan karena tanganku pernah menuliskan sajak, namun sebab K suka dengan puisi-puisiku. Termasuk mengenai Gadis Siput, adalah barangkaliAtau dia cemburu? Mangkanya tiada menghubungiku, seperti lagu "Dengan Caraku",Tak mengerti, mengapa engkau membisu
Dering darimu tak ada lagiOleh Jodie dan entahlah siapa. Dan, apakah aku hanya sehanya memperhatikan prempuan sahaja.. . sepertinya tidak begitu. Hanya, K terlihat jauh lebih cantik dari siapa pun yang pernah kulihat, termasuk ibuku, K jauh lebih cantik dan hangatPagi itu, kusempatkan menitipkan naskahku padanya. Pagi itu, dia yang membuatku jadi pengecut dan tak setangguh yang dulu--karena dia yang menyapaku duluan, dan hati ini sangatlah ciutYaitu, di hari-hari setelah aku menyatakan cinta dan tubuh ini sangatlah letih dibuatnya

Marlboro Merah

Di sidang diskusi anak-anak fotografi, aku teringat mamak pamanku. Rohmantik penyair Irman Syah nan pernah beribogem ke seorang akitor yang songong, di saat akitor lelaki itu memainkan "Di Bawah Lindungan Ka'bah"Aku memantik diskusi dengan buku Rendra dan Tan, diskusi mengenai pameran nan 'kan dilakukan oleh merekaism yang kudatangi kali ini, di luarDi luar. Nan Tumpah kelompok seniku yang dahulu, bermain petak umpat.

Gadis Siput Ending

Kau tahu, Deka? Jarak memang membataskan kita. Dan waktu? Hmm. Apalagi waktu.Kisah hidup orang membuat kita semakin kuat dan tabah, begitu pula dengan kisah hidup masing-masing.Aku tahu kau sudah tak lagi marah padaku. Tapi. Aku saja yang malu, pada diriku sendiri, mempermainkanmu di saat itu. Kini, terbayang sudah rasa sakitmu. OlehkuNamun, Deka. Bukan aku mau memiliki atau merebutmu, tidak. Cukuplah kisah itu kita simpan di hati kita masing-masing, memeluknya sendiri-sendiri. Kau dan aku pun sudah dewasa, kiniAku hanya ingin memaafkan segala kelakuan yang kuperbuat sendiri, padamu dan padaku. Kuharap kau juga bisa begituWarmest Regards,
E

Cies Ibuku

Beliau selalu berkata bahwa aku ini anak baik. Tapi aku mau apa? Ada juga orang yang tak suka aku. Begitu pun dirimu kan, K? Malam ini, saat kutunggui dirimu di bawah saung beratap rumbia itu, kau tak datang. HujanApa karena hujan itu kau tak jadi menyinggahiku? Aku mau saja salahkan sajadah yang tak pernah mengantarku seperti mengantar Abu Nawas ke permukiman raja-rajaDan perlu kau tahu, K, bahwa aku percaya kau memang untukku. Selayak ibuku percaya akulah anaknya.

Ternyata Kau Adalah Dia (sebuah catatan tentang cinta)

- untuk KKau memang bukan pertama dari yang pertama, dan bukan pula yang menyentuh ubunku nan acapkali kucuci dari darah keistimewaan.Entah ini puisi, tapi menurut Penyair Bram, menulis jangan dipikirkan apa, namun bagaimana. Dan seorang paman nan datang dari jauh yang t'lah kulepaskan bulu-debu rindu padanya, berkata bahwa aku harus menulis.Barangkali ini bukan puisi, sebab keniscayaan itu rasanya tiada lagi setelah kau berkata bahwa kau mencintai pepuisi-puisianku. Puisi! Bukan aku!Ini, ada sebuah titipan yang kukerjakan saat berjalan-jalan bersama Ayah di ibukota provinsi.. . Datanglah, biar kukasi nanti