Langsung ke konten utama

Epistemologi Kiri dan Novel Pop

(Selasa, 13 Desember 2016) Eka Kurniawan akhirnya memutuskan untuk berhenti di dunia penulisan.

Pengarang tiga belas novel sastra yang dikenal lewat debutnya, Cantik Itu Luka (Gramedia, 2004) berwajah Indo ini mengaku bahwa ia sudah kehabisan ide.

Selain itu, pria lulusan Universitas Negeri Padang jurusan Sastra Inggris ini, seperti yang terlansir di laman Wikipedia, berkata bahwa dirinya akan meneruskan kiprahnya di indrustri hiburan lewat dunia film.

"Ya, gue bakal ngelanjutin sekuel film Seperti Dendam (Rindu Harus Dibayar Tuntas). Gue akan jadi ayahnya Ajo Kawir."

Film yang diperankan oleh bintang baru Emil Reza Maulana tersebut, sudah mencapai ribuan juta penonton dari dalam maupun luar negeri.

"Sepertinya saya tidak bakal main," kata Emil, "kan Ajo Kawir sudah menemukan happy ending, jadi ya.. Begitu, deh."

Emil, pria kelahiran Addis Ababa dua puluh tahun silam ini mengaku dirinya tidak berdaya. "Ya, kan yang dibuat itu film cintanya ayah Ajo. Berarti paling tidak, Ajo Kawir cuma diperankan sama bayi.."

Padahal pemain teater yang baru pertama kali masuk ke dunia perfilman ini, mengaku jatuh cinta pada sosok Iteung yang tak lain diperankan oleh Bintan Radhita, seorang musisi bersuara lembut seperti Raisa tersebut.

"Tapi tenang saja, besok saya bakal menulis buat undang dia (Bintan Radhita). Saya mau menulis novel komedi-puitis yang judulnya Gadis Embun Pagi." kata lelaki berkacamata penggemar Dewi Ayu dan Raditya Dika tersebut.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buku-buku yang Menggoda: Seorang Kuli Bangunan

Ibu pernah berkata, bahwa Jodie Foster itu sama dengan Nurul Arifin. Setiap filmnya bagus-bagus. Mereka memang pandai bermain peran. Catat. Bukan berakting. Catat. Bukan berbohong.
***
Buku-buku itu juga sama," kata ibu. Atau ayah. Atau paman yang kolektor buku. Adik tiri ibu. Mereka semua berkata begitu.
***
Paman yang kolektor buku, berkata "Setiap buku harus dijaga, kalau perlu disimpan kembali ke lemari. Museum? Bisa jadi, bisa juga jika: setiap buku yang bertanda-tangan penulisnya, dilelang."
Maka aku pun menjaga buku-buku supaya tidak rusak.
Namun tanganku kapalan, akulah kuli bangunan yang disebutkan di judul itu. Tiap-tiap pekerjaanku berat. Tak ada yang sanggup di antara keluarga kami.
Kata ibu, waktu aku kecil, orang yang disebut adik tiri ibu itu pernah, menemukanku, di suatu tempat. Lebam sana-lebam sini. Biru-membiru-ungu.
Tidak. Tidak terlalu ungu. Namun biru. Orang-orang mulai menghebohkanku. Orang-orang yang kemudian pergi, melupakan pernah apa aku ini. Orang-or…

Latar Belakang si Puella Roris

Pada Epilog, orientalis berkata bahwa dia tidak suka budaya Minang. Padahal sebaliknya, ia justru heran, karena para pemikir cemerlang Indonesia mayoritas berasal dari daerah tersebut. Dan "heran", tentu karena ada rasa ketertarikan.Orang-orang Minang, menjalani hidupnya di antara Badai Kegelisahan serta Kutukan Waktu. Kutukan Waktu, adalah yang membuat mereka selalu santai dalam bekerja. Menjalankan hari-hari mereka.Saya sempat merasa bahwa ini adalah semacam sifat malas, yang terbudaya dalam diri orang Minang. Keburukan-keburukan selain mereka yang menyenandungkan lagu-lagu kesedihan sebagai seni, serta turut mengaplikasikan seni tersebut dengan mengejek dan menertawakan orang memakai lagu-lagu itu. Misalnya ketika ada orang yang memakai bahasa Indonesia dengan aksen formal, terkesan dari Jakarta, dan penampilannya sangat rapi dan bergaya, tapi tak pernah sedikit pun mencoba bahasa Minang; mereka akan menyanyikan lagu Takicuah di Nan Tarang (semacam lagu bertema orang-oran…

Derai-derai Kayu Cemara di Suatu Tempat di Norwegia

Bung, merokok hidung itu, seperti berhadapan dengan hantu." kata Datuk Inyo yang Terbuang, sambil menggaruk-garuk kepalanya yang botak.Benar saja, ketika aku pertamakali berhadapan dengan hantu, itu sudah lama sekali, sebenarnya, ada perasaan seperti membakar cerutu lalu asap yang dihisap itu dihembuskan melalui hidung.Terkadang, jika kita sudah terbiasa mengepulkan asap dari hidung, terkadang dia akan terasa tidak terlalu sakit. Tapi pada mulanya, justru sangat berbeda.Seringnya, akan pedih bukan main ketika asap itu tidak terbiasa, melewati dua lubang pernafasan. Dua sekaligus dengan pedih yang memedihkan serta sangat serius.Ada kalanya pula, asap yang mau dihembus-hidung, seperti keluar lewat mulut. Secara biasa. Dan itulah kretek, dia hidup lewat rasa rempah-rempah. Khas negeri terjajah, sensasi dan cita rasa internasional.***Agam, kakakku satu-satunya, yang Indigo, selalu dengan keterbatasannya yang tidak sehebat anak-anak Kristal; yang selalu mengerti dan teratur, tertib da…