Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2019

Orde Milenial: aku menulis ditemani selimut dan kopi, chapter 3

Aku beranjak dari angan-anganku tentang toko kopi dan Indonesia.Lalu, aku teruskan menulis ditemani selimut dan secangkir kopi. Di salah satu sudut kamarku. Berdua saja dengan komputer pentium. Aku jadi teringat psikolog setiaku, Zera Mendoza, di mana ia selalu menyempatkan untuk menagih tulisan-tulisanku. Meski pun tak pernah kuanggap serius, lelaki itu memang benar-benar menginginkan tulisanku diterbitkan. Satu hal yang jadi masalah: aku tak punya dana.Tak ada penerbit mayor yang mau tulisanku terbit, dan tak ada penerbit independen yang mau gratisan. Meski pun aku selalu begadang di tengah malam, dan meski aku juga bisa menulis Inggris seperti Minke--di novel keduanya, Anak Semua Bangsa, Pram menuliskan Minke menerima banyak kemajuan, salah satunya menulis dalam bahasa Inggris--tulisanku tak pernah terbit. Kecuali yang suatu kali, "Emil's Mentation", dicetak secara terbatas. Naskah filsafat kacangan, kataku ke orang-orang, Terlalu banyak typo di setiap halaman! Kataku…

Orde Milenial: aku dan affogato, chapter 2

Aku memesan affogato, es krim kopi yang kupikir hanya ada di kedai kopi Rimbun, Padang, ternyata juga hidup di sini. Es krim yang belum pernah disentuh siapa pun, termasuk kehangatan Deka Andriani si Gadis Siput. Atau oleh perempuan-perempuan setelahnya, seperti Nona Teh Beyond, yang kutemukan pertamakali di bawah bulan purnama, di perbatasan kota yang sama dengan tempat kedai kopi Rimbun. Tapi. Kisahku harus berakhir dengan Gadis Siput, di dekat sebuah persimpangan.Antara hidupku, dan hidupnya.Omaigat di sini dingin sekali.Aku pun benar-benar masuk ke dalam toko kopi itu.#Aku becanda. Gadis Siput atau Deka Andrianimaukahkaujadiistriku, tidak pernah pergi dari Indonesia.Deka dan kampung halaman. Kecuali untuk turnamen, pernah sekali ia ke Negeri Jiran, Malaysia. Tempat aku mengawali langkah. Tahap pertama di saat aku berpisah dengan para masyarakat Samudera Hindia. Menjadi mandiri di tengah para orang asing, dan ternyata membuatku bertemu lagi dengan affogato. Es krim kenangan di masa…

Orde Milenial: mengenang seorang perempuan bernama Gadis Siput, chapter 1

Saat itu di Leiden, musim panas akan kembali ke sini jika hujan memilih berhenti. Aku di sebuah toko kopi yang mengingatkanku pada masa lalu. Masa laluku dengan seorang perempuan bernama Deka, gadis yang datang setelah berkali-kali kunikmati lagu "Fox Rain", dan kututup dengan lagu "Jangan Ajak-ajak Dia" dibarengi guling yang baru kubeli.Guling ini, ada boneka di jahitan atasnya. Boneka telepon khas drama film kartun One Piece, bentuknya lucu, seperti siput. Cih! Lagi-lagi ini mengingatkanku pada Deka, yang saat itu ingatan tentang wajahnya kuabadikan di esay "Once Upon a Time ini Yos Sudarso". Esay bersambung yang dilanjutkan dengan "After Yos Sudarso" serta "Gadis Siput Upset".Hmm.Tadi pagi, Bang Hen menelepon, dia menanyakan keadaanku dan aku bertanya tentang keadaan keluarga di West Sumatra. Daerah kelahirannya. Rumahku. Kampung halaman yang selalu saja memanggil-manggil untuk pulang. Berkali-kali aku nyaris tersandung dan hampir j…

RESENSI CERPEN: Melodrama di Negeri Komunis

Tokoh utama itu, saya kira dia adalah satu dari sekian tokoh revolusioner yang selama ini kita kira-kira dan terka di mana keberadaannya: Tan Malaka.Pejuang Indonesia ini, pada masanya ia telah membentangkan sayap termasuk ke Komintern, Rusia, di mana ia akhirnya terpaksa mundur dari jabatannya sebagai wakil Komunis dari Indonesia. Barangkali juga saat itulah Stalin memaksakan kehendaknya pada dunia. Saya tidak tahu. Sejarah terlalu kabur.Tapi, jika kita kembali membahas cerpen ini, "Melodrama di Negeri Komunis" sangatlah berbeda jauh dengan novel karangan Hendri Teja, Tan yang novel keduanya terbit beberapa waktu lalu.Saya suka ketika si tokoh utama cerpen akhirnya menerima kekasih-melodramanya dengan ikhlas. Ini sekali lagi, mengingatkan saya kepada Tan Malaka. Dan pada kalimat terakhir, sewaktu si tokoh utama kembali memilih diksi berkonotasi waktu, "Enam belas tahun kemudian, masih juga kulihat melodrama di matanya yang berlinang-linang." serta kisahnya mengena…

Cinta

Aku kehilangan rasa cintaku terhadap manusia. Ini pernah terjadi sebelumnya di tahun 2017 lalu, di mana kutemukan diriku hampa. Sangat hampa. Seperti kehilangan fitrahnya, kata Rendra di salah satu sajaknya.Dan, aku baru saja mengirimkan naskah-naskahku ke Om Kw. Bukan seperti Emil's Mentation, melainkan tak pernah terjadi sebelumnya..-

Establishing Vows and Celibacy

CastRahna (Laki-laki, 22 thn)DI DEPAN GERBANG VIHARA BUDDHARahna (bahasa hati) : Namaku Rahna.SOUND. Suara angin berhembusRahna (bahasa hati) : Dan aku baru patah hati.SOUND. Suara lalu lintas jalan di depan vihara.Rahna (bahasa hati) : Apakah takdir akan membuatku menjadi seorang murid dari Sidharta, atau aku harus terus perjuangkan ini?CLOSE UP. Telapak tangan Rahna.Hujan.Jatuh setetes air ke telapak tangan Rahna.Hujan.Rahna basah kuyup.Rahna (bahasa hati) : Apakah aku akan hidup seperti Bisma Dewabrata?EXT. Halaman vihara, basah terkena hujan.Rahna (bahasa hati) : Atau seperti Rahwana, yang menculik seorang insan dari kekasih cinta matinya?FLASHBACKCastRahna (Laki-laki, 22 thn)
Ami (Perempuan, 22 thn)
Ben (Laki-laki, 23 thn)Rahna: Kukira, kau harus segera menikah, Ben.Ben: Maksudmu?Rahna: Lihatlah! Ami sejak dulu selalu menunggumu.Ben: Anjrit!!Ami: Dengerin tuh, Ben.Ben: (diam tanpa kata)FLASHNEXT. Hujan di viharaRahna (bahasa hati) : Tidak ada yang namanya perempuan setia. Mereka …

Melajang

Aku baru diselesaikan oleh cinta. Hati yang terlampau menatap masa depan, kini hanyut ke laut menuju matahari terbenamAku sudah tua,Aku pun takkan mungkin melupakan nyeri di dada. Rindu terkatung-katung sementara musim menggegas kepada kehampaanAku bangkit kini,Dan hidup sebagai pendeta