Langsung ke konten utama

Beberapa Alternatif dari Judul Kealihbahasaan dari Syair Dalam Sekam

Selamat sore semuanya!

Di dalam kesenjaan dari berbagai tukang sajak di Indonesia, sahaya pengen melampirkan one of secret project sahaya untuk bulan Agustus hingga September ini. Yakni penerjemahan puisi dari seorang sahabat tua sahaya, Penyair Bram. Atau bernama lengkap Muhammad Ibrahim Ilyas. Beliau sudah terbilang berpengalaman di dunia seni, khususnya literatur tinggi seperti teater dan pensyairan--ya, "pensyairan", karena saya ingin menyinggung tren yang sedang populer ributnya di kalangan pencinta sastra dan pendidikan negeri ini--dan telah menerbitkan sejumlah catatan, yakni Ziarah Kemerdekaan dan Syair Dalam Sekam.

Mulai dari hari ini, Rabu 1 Agustus 2018, saya sudah terikat kontrak dengan beliau. Meski dalam keadaan galau.. . yahh, biasalah anak muda, galaunya pasti karena masalah di lingkaran-lingkaran itu saja. Tapi, Penyair Bram ini ibarat Bang Muluk di Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck-nya Hamka. Ia segera menyetujui proyek ini dan berkata pada saya, "Oke." terlepas dari kemungkinan apakah ia juga prihatin terhadap relasi saya ke Gadis Siput yang baru memblokir nomer kontak dan Instagramku. Oh.. Tapi biarlah, saya juga akhirnya tak hanya sekedar empati pada kisah Zainuddin dan Hayati itu. Hingga dari itu, maka biarkan aku terbakar api layla majnun. Hidupku sudah pernah jauh lebih menderita dari pada ini, jadi sahaya sudah terbilang cukup terlatih, seperti lagu "Terlatih Patah Hati"-nya The Rain feat Endank Soekamti.

Ya, begitulah kira-kira.

Dan, kali ini saya mau mengajukan poling atas beberapa alternatif dari beberapa benih judulnya Syair Dalam Sekam. Jika Anda berminat, tolong berikan komentar, kritik dan saran. Bagi tiga orang pertama yang komentarnya paling berbobot, masuk akal, progresif dan kritis--bahkan di luar ekspektasi--akan diberikan buku terjemahan yang, inshaallah terbit dalam kurun awal tahun 2019.

Selamat mencoba.

@

1. A Verse in Chaff

Merupakan judul yang paling simpel di antara judul-judul lain, namun lemah dalam penggambaran latar belakang.

2. A Rhyme in the Bran

Judul yang paling kuat daya popularitasnya di antara judul-judul lain. Disebabkan irama yang penuh estetika, mengingatkan pada lagu-lagu heavy metal tahun '80an seperti Bohemian Rhapsody.

3. The Hull's Lay

Mungkin judul ini juga merupakan pesaing dari "A Verse in Chaff" karena sifatnya yang simpel. Tapi "The Hull's Lay" lebih mengesankan bahwa pembacanya tidak perlu menuruti pakem-pakem atau kaidah tertentu saat pembacaan puisi.

4. A Poem in the Husk

Judul ini mengesankan bahwa penyairnya bersifat kuat dan tegar, memiliki latar belakang yang rumit dan kehidupan yang keras. Cocok untuk menggaet pembaca kelas literatur tinggi. Judul lain yang agak mirip, yakni "Some Poem in the Husk" atau "Husk Poem" atau "Husk's Poems".

5. A Rune in The Chaff

Dengan huruf kapital pada 'T' di kata "The Chaff", menyiratkan bahwa latar belakang puisi yang erat kaitannya dengan chaff atau sekam. 'T' kapital merupakan penekanan terhadap eratnya kaitan itu. Dan penggunaan kata "Rune" ini juga menyebabkan judulnya menjadi sangat eksotis dan antropologis dari judul-judul lain.

@

Goodluck! Terimakasih sudah membaca.. . happy nice day, tommorow and ever after.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buku-buku yang Menggoda: Seorang Kuli Bangunan

Ibu pernah berkata, bahwa Jodie Foster itu sama dengan Nurul Arifin. Setiap filmnya bagus-bagus. Mereka memang pandai bermain peran. Catat. Bukan berakting. Catat. Bukan berbohong.
***
Buku-buku itu juga sama," kata ibu. Atau ayah. Atau paman yang kolektor buku. Adik tiri ibu. Mereka semua berkata begitu.
***
Paman yang kolektor buku, berkata "Setiap buku harus dijaga, kalau perlu disimpan kembali ke lemari. Museum? Bisa jadi, bisa juga jika: setiap buku yang bertanda-tangan penulisnya, dilelang."
Maka aku pun menjaga buku-buku supaya tidak rusak.
Namun tanganku kapalan, akulah kuli bangunan yang disebutkan di judul itu. Tiap-tiap pekerjaanku berat. Tak ada yang sanggup di antara keluarga kami.
Kata ibu, waktu aku kecil, orang yang disebut adik tiri ibu itu pernah, menemukanku, di suatu tempat. Lebam sana-lebam sini. Biru-membiru-ungu.
Tidak. Tidak terlalu ungu. Namun biru. Orang-orang mulai menghebohkanku. Orang-orang yang kemudian pergi, melupakan pernah apa aku ini. Orang-or…

Latar Belakang si Puella Roris

Pada Epilog, orientalis berkata bahwa dia tidak suka budaya Minang. Padahal sebaliknya, ia justru heran, karena para pemikir cemerlang Indonesia mayoritas berasal dari daerah tersebut. Dan "heran", tentu karena ada rasa ketertarikan.Orang-orang Minang, menjalani hidupnya di antara Badai Kegelisahan serta Kutukan Waktu. Kutukan Waktu, adalah yang membuat mereka selalu santai dalam bekerja. Menjalankan hari-hari mereka.Saya sempat merasa bahwa ini adalah semacam sifat malas, yang terbudaya dalam diri orang Minang. Keburukan-keburukan selain mereka yang menyenandungkan lagu-lagu kesedihan sebagai seni, serta turut mengaplikasikan seni tersebut dengan mengejek dan menertawakan orang memakai lagu-lagu itu. Misalnya ketika ada orang yang memakai bahasa Indonesia dengan aksen formal, terkesan dari Jakarta, dan penampilannya sangat rapi dan bergaya, tapi tak pernah sedikit pun mencoba bahasa Minang; mereka akan menyanyikan lagu Takicuah di Nan Tarang (semacam lagu bertema orang-oran…

Derai-derai Kayu Cemara di Suatu Tempat di Norwegia

Bung, merokok hidung itu, seperti berhadapan dengan hantu." kata Datuk Inyo yang Terbuang, sambil menggaruk-garuk kepalanya yang botak.Benar saja, ketika aku pertamakali berhadapan dengan hantu, itu sudah lama sekali, sebenarnya, ada perasaan seperti membakar cerutu lalu asap yang dihisap itu dihembuskan melalui hidung.Terkadang, jika kita sudah terbiasa mengepulkan asap dari hidung, terkadang dia akan terasa tidak terlalu sakit. Tapi pada mulanya, justru sangat berbeda.Seringnya, akan pedih bukan main ketika asap itu tidak terbiasa, melewati dua lubang pernafasan. Dua sekaligus dengan pedih yang memedihkan serta sangat serius.Ada kalanya pula, asap yang mau dihembus-hidung, seperti keluar lewat mulut. Secara biasa. Dan itulah kretek, dia hidup lewat rasa rempah-rempah. Khas negeri terjajah, sensasi dan cita rasa internasional.***Agam, kakakku satu-satunya, yang Indigo, selalu dengan keterbatasannya yang tidak sehebat anak-anak Kristal; yang selalu mengerti dan teratur, tertib da…