Langsung ke konten utama

Aku Tahu Aku Mau Apa (cerpen)

I can't write a good letter
B'coz I'm not a professional writer
and like these a letter
witch not made from professional writer
- Dichter Experten
@
Aku tak bisa menulis dengan bagus
Sebab bukan seniman kata-kata beneran
dan seperti inilah puisi
penyihir tidak tercipta dari penulis profesional
- Penulis Expert
@
"Penulis Expert" atau "Dichter Experten", segera kirim ke Media Indonesia, Koran Tempo dan Kompas sekaligus. Hari-hari setelah di Senin ini aku pergi melewati gerbang SMP Alam Minangkabau, bergegas berjalan. Menunggu hari Selasa. Menunggu Rabu, Kamis, Jum'at, Sabtu, Minggu. Bulan-bulan baru. Tahun-tahun selanjutnya.
Di warnet, kuaktifkan akun surelku, vellesazephi@gmail.com dengan pasword ************* dan mengambil data untuk kemudian dilampirkan dan dikirim ke opini@kompas.com dan lain-lain. Sekaligus, supaya jika media satu menolak, ada kemungkinan diterima media lain. Kalau langsung diterima, misalnya oleh Kompas, tinggal kasih kabar ke Koran Tempo dan Media Indonesia.
Enggak etis? Biar.
Sudah sejak delapan tahun mereka tak pernah juga, sekali pun, memuat paling tidak satu puisiku. Ini bentuk pemberontakan baru dari seorang penyair facebook. Ya, baru. Segar. Fresh from the oven. Progresif. Atau bukan?
Entah.
Di beberapa waktu yang lain..
Kami mahasiswa Indonesia bersumpah
Bertanah air satu
Tanah air tanpa penindasan
Kami mahasiswa Indonesia bersumpah
Berbangsa satu
Bangsa yang gandrung akan keadilan
Kami mahasiswa Indonesia bersumpah
Berbahasa satu
Bahasa tanpa kebohongan
Itulah sedikit hal yang kutahu mengenai keadaan di masa lalu. Yang masih bisa dijadikan rujukan di masa seperti pemilihan presiden 2013. Sumpah yang sangat suci, khas kaum terpelajar yang sangat menginginkan pergantian sistem negerinya sendiri. Ya, negerinya sendiri. Ego? Bukan egois. Meski memang bisa dimasukkan ke katagori ego. Ego untuk perjalanan mencari sebuah kesejatian.
Tapi.
"Sumpahnya enggak bagus. Apaan sumpah kayak gitu?" kata ibuku, yang sedang menyetir mobil di sebelah abangku. Aku duduk di belakang, paling belakang.
"Sorry, Aktivis Senior.. Ini juga baru belajar bersumpah." ujarku sambil membaca buku. Anak Semua Bangsa, karangan Pram. Detik-detik Minke diberi mandat menulis Inggris, yang membuatnya bangga. Lalu disuruh oleh temannya, Jean Marais, agar jangan bahasa asing terus, Menulis jugalah dalam Melayu, Minke.. kata sahabatnya itu. Detik-detik Minke merasa direndahkan, lalu berkelahi dengan Jean gara-gara Minke merasa tak level jika menulis tulisan Melayu.
"Bukan masalah senior-junior.." kata wanita itu lagi. "Mahasiswa tahun 1908 saja berpikir positif, enggak pakai sumpah pesimis kayak gitu."
Ibuku aktivis senior. Paling senior karena generasinya paling tua di antara aktivis-aktivis yang masih hidup. Dan generasi paling cemerlang, karena konon, ketika para aktivis yang lebih tua pada hengkang ke luar negeri, dan beberapa ada yang tak kembali sampai sekarang, seperti di film Surat dari Praha yang salahsatu tokohnya diperankan oleh Julie Estelle, generasi ibuku adalah generasi yang paling aktif dan cukup bijak dalam menyusun rencana perlawanan terhadap orde yang lazimnya menzalimi rakyat dan orang-orang berpikiran kritis. Contohnya aku, saat aku masih di SMP Alam Minangkabau, guru-guru di sana seperti Bu Mia yang secantik Dian Sastrowardoyo pun, mengambil langkah seperti Cinta Menghadapi Rangga Yosrizal.. . yang belakangan ini mengubah namanya jadi Rangga Sastrowardoyo, begitu menurut Nicholas Saputra secara entah kenapa. Padahal, sutradara yang juga merangkup penulis skenario Ada Apa Dengan Cinta? Sekuel pertamanya, menulis jelas-jelas kalau Rangga bernama belakang "Yosrizal". Bukan "Sastrowardoyo". Atau, mungkin karena Yosrizal adalah nama bapaknya, dan Rangga lebih memilih ayahnya ini saat kakak-kakaknya pergi bersama ibunya yang cerai lari. Rangga menukar namanya jadi "Rangga Yosrizal".
Lalu, apa hubungannya sama aku? Bu Mia.
Bu Mia bertanya apakah aku plagiat? Kujawab tidak. Tapi ia masih belum percaya, dan berkata kalau aku akan ditangkap kalau aku plagiat. Maksudnya apa? Memplagiat apa aku? Tapi dia tidak menjawab, lalu pergi dari perpustakaan ini.
Aku kembali membacai Kamus Besar Bahasa Indonesia yang kusukai, karena sampulnya keras dan bergaya klasik. Mengingatkan kita pada cerita-cerita zaman perang. Dan, kalau enggak salah, penulis paling cemerlang tahun lalu, juga suka membaca kamus. Eits! Tunggu dulu. Apakah yang Bung maksud itu adalah Eka Kurniawan? Enggak, dong. Yang kumaksud itu, Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie*, yang sudahlah menerbitkan lebih dari 10 judul buku, ia juga masih muda usianya. Dan juga berhasil menyingkirkan pesaing-pesaingnya di Sayembara Novel DKJ 2017, dan karena itu jadi tak ada juara 2 dan 3.
Ziggy berkata, "Aku sengaja nggak milih jurusan Sastra Indonesia atau sastra mana pun. Soalnya nanti terpaku ke peraturan-peraturan ini-itu yang bikin daya kreativitasku terganggu."
Hmm. Kita sama, Ziggy.
Tapi kondisiku mungkin lebih buruk darimu. Di SMP Alam Minangkabau, yang merupakan institusi yang dikenal sangat revolusioner dan paling memungkinkan sebagai sekolah teridealis di West Sumatra, aku mendapati sisi lain yang lebih hina. Hina karena munafik. Hanya segelintir guru yang bisa disebut sebagai guru yang benar-benar guru. Yang lain hanya pejabat sekolah nan menginginkan namanya dikenang, bahkan dengan jalan pemaksaan.
Tak lama, setelah beberapa bulan semenjak aku dituduh plagiat oleh Bu Mia, wanita itu datang lagi dan berkata kalau, "Berhenti menulis. Tulisanmu mempermalukan nama sekolah."
Ha? Masa sekolah yang dikenal seidealis ini masih mementingkan nama baik? Tapi aku tetap bertahan sebagai salah satu siswanya, meski kurasa seharusnya aku mengejar cintaku di SMA Don Bosco tahun ini. Mengejar gadis itu, Gadis Embun Pagi. Penumpang perempuan yang kutemui di angkot, yang menjadikanku, kalau seperti Hamka bilang di novel Tenggelamnya Kapal Van Deer Wijck, "Kaulah yang bisa menjadikanku seorang lelaki gagah berani." Ya, Embun. Kau pula yang mampu menjadikanku seorang pengecut tak tahu diuntung. Tak tahu diuntung gara-gara tak mensyukuri nikmat Tuhan seperti di surah Ar-Rahman, di mana Tuhan menjanjikan surga pada setiap manusia, dan dunia ini hanyalah sekedar cobaan di sebuah persinggahan.
Iya, kan?
***
Tapi Bu Mia beserta para guru lainnya, yang hampir semuanya memiliki sifat "feodal-usiais" itu, yang merasa bahwa mereka sudah dewasa dan sudah cukup, atau sangat lebih pintar, dariku yang bukan siapa-siapa di kalangan seniman Jakarta atau seniman Yogyakarta. Walau sebenarnya mudah saja bagiku untuk datang main-main ke Salihara atau Ubud Writers Festival itu. Hanya dengan menabung selama 3 bulan, aku sudah sampai dan sudah berfoto dengan orang-orang seperti M Aan Mansyur atau Ayu Utami. Dan mungkin-mungkin saja aku tidur, tinggal dan menetap berapa lama di Studio Hanafi. Atau sekretariat organisasi masyarakat di Bina Desa atau Kapal Perempuan.
Tapi, demi kerinduanku pada Gadis Embun Pagi, dan bagaimana teknik-teknikku untuk mendapatkan hatinya, yang selama ini gagal karena hanya di angkot itulah, aku bisa bertemu dengannya. Bahkan itu tak bisa disebut pertemuan, melainkan hanya perpapasan sahaja.
Tapi aku mencintainya. Benar-benar mencintainya. Cahaya puisiku, api sulbiku. Hurremku. Laylaku, Julietku. Hanya kepadanyalah aku kembali, sesuai di salah satu novel Yetti A.KA, Peri Kopi, di mana kopi hanyalah menjadi atmosfer cerita itu. Karena intinya adalah kisah cinta. Sebagaimana kultur sastra yang terbangun belakangan ini, di mana para pujangga digital hanya berbicara mengenai senja dan kesenjaan. Tentang kopi kopi kopi. Di Instagram, Facebook, Tumblr mereka masing-masing.
Ya, sesuai di sampul Peri Kopi, "Cinta yang sederhana selalu menjadi tempat pulang." Dan aku akan selalu mencintai Gadis Embun Pagi, terus, selalu, apa pun alasannya.
Tapi.
Meski begitu.
Aku tak pernah benar-benar mengenalnya. Gadis Embun Pagi hanya hidup di dalam puisi-puisiku. Tidak yang lain. Meski telah susah-payah kutulis sesuatu yang lebih serius dari puisi, yakni sesuatu yang dibangun dengan lebih sabar daripada fiksi mini. Dan juga bukan cerita pendek. Lebih tepatnya novelet A Girl with The Morning Dew, yang para sastrawan asing pasti akan langsung mengomentari, "Tulisan 'The'-nya harusnya enggak pakai huruf kapital.."
Tapi mungkin juga enggak bakal begitu. Mereka yang terbiasa hidup di negara maju akan terus menyokong keabadian sejati. Yakni perubahan. Satu-satunya keabadian sejati hanyalah perubahan. Itulah mengapa ada banyak agama yang diturunkan Tuhan ke dunia. Tapi, sayangnya, baru-baru ini aku keluar dari SMP Alam Minangkabau tanpa niat sedikit pun untuk lanjut ke Don Bosco. Apalagi ke SMA Alam Minangkabau, ogah! West Sumatra yang dulu sangat dikenal dengan konsep masyarakatnya yang egaliter, yakni mengutamakan kesamaan hak setiap orang--dan karena itu ada tokoh anak gadis bernama Sabai Nan Aluih yang sangat terkenal, yang menghadapi para preman laki-laki jantan pembunuh bapaknya--dan terkenal dengan bangunan tradisional balairung, tempat orang-orang berdiskusi dan bermusyawarah.. . Belum lagi, tokoh-tokoh sastra yang tumbuh subur di sini. Hanyalah omdo. Omong doang.
Tidak ada buktinya di sini. Sejak aku langkahkan kaki ke tanah perguruan seniman. Bahkan seorang cerpenis koran tempat aku belajar penulisan kreatif, juga susah untuk menerima sastra jenis baru. Tapi malah setuju apa pun yang dikatakan Eka Kurniawan! Lucu, kan? Kang Eka sendiri, tak pernah setuju kalau kelas penulisan kreatif itu ada gunanya untuk jadi penulis sukses. Dia berkata, kuncinya hanya membaca. Membaca. Dan membaca. Buku apa saja dan jangan pernah ada pantangan.
Kan?
#
"Tulisanku koran!! Tulisanku masuk koran!!" Kataku, berseru ke kawan-kawan di kantor.
Seorang dari mereka, Bung Yose, langsung memberi jempol. Dua jempol dari tangan kanan dan tangan kirinya. Kupanggil "Bung", meski usianya sudah empat puluhan dan punya anak dua. Ia tak keberatan, malah sangat responsif saat aku berbicara. Apa saja. Termasuk kau, Gadis Embun Pagi.
Ini adalah beberapa bulan, di tahun yang telah berganti, setelah kau selesai tamat SMA, pergi dan tak kembali. Tak ada lagi di angkot itu.
Aku sudah mendapatkan status baru dari sekedar siswa lulusan SMP. Aku magang di sebuah kantor LSM, tempat aku mengerjakan beberapa naskah terjemahan, salah satunya mengenai smong, yaitu teknik-teknik tradisional dari masyarakat Aceh saat menghadapi tsunami, ditulis oleh beberapa aktivis Jepang di sekitar tahun-tahun pasca bencana itu. Dalam bahasa Inggris. Aku perlu rehat sebentar, lelah dengan tiga macam kamus bertumpuk di sebelah komputer.
Ya, di sini aktivitasku sehari-hari, di mana orang-orangnya sudah mengenalku dari dulu, tanpa bisa kuingat dan tanpa kusadari bahwa mereka sudah mengenalku dari dulu. Mereka kawan-kawan ibuku, yang menyokongku untuk menjadi diri sendiri. Mereka menghormatiku, sangat menghormati. Terutama saat kubilang, "Jangan pandang aku sebagai anak ibuku. Pandang aku sebagai diriku yang independen." Dan, mereka pun menjulukiku sebagai Chairil Muda. Seperti di salah satu tulisan penyair itu, Mirat Muda, Chairil Muda.
Aku muda, Embun muda.
"Mil, nih honor pertunjukan tadi malam." Katanya, menyerahkan selembar amplop cokelat, "Selamat."
Kuterima amplop itu, lalu tersenyum.
Aku tahu aku mau apa.
*maaf kalau ada kesalahan pengejaan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buku-buku yang Menggoda: Seorang Kuli Bangunan

Ibu pernah berkata, bahwa Jodie Foster itu sama dengan Nurul Arifin. Setiap filmnya bagus-bagus. Mereka memang pandai bermain peran. Catat. Bukan berakting. Catat. Bukan berbohong.
***
Buku-buku itu juga sama," kata ibu. Atau ayah. Atau paman yang kolektor buku. Adik tiri ibu. Mereka semua berkata begitu.
***
Paman yang kolektor buku, berkata "Setiap buku harus dijaga, kalau perlu disimpan kembali ke lemari. Museum? Bisa jadi, bisa juga jika: setiap buku yang bertanda-tangan penulisnya, dilelang."
Maka aku pun menjaga buku-buku supaya tidak rusak.
Namun tanganku kapalan, akulah kuli bangunan yang disebutkan di judul itu. Tiap-tiap pekerjaanku berat. Tak ada yang sanggup di antara keluarga kami.
Kata ibu, waktu aku kecil, orang yang disebut adik tiri ibu itu pernah, menemukanku, di suatu tempat. Lebam sana-lebam sini. Biru-membiru-ungu.
Tidak. Tidak terlalu ungu. Namun biru. Orang-orang mulai menghebohkanku. Orang-orang yang kemudian pergi, melupakan pernah apa aku ini. Orang-or…

Orde Milenial: mengenang seorang perempuan bernama Gadis Siput, chapter 1

Saat itu di Leiden, musim panas akan kembali ke sini jika hujan memilih berhenti. Aku di sebuah toko kopi yang mengingatkanku pada masa lalu. Masa laluku dengan seorang perempuan bernama Deka, gadis yang datang setelah berkali-kali kunikmati lagu "Fox Rain", dan kututup dengan lagu "Jangan Ajak-ajak Dia" dibarengi guling yang baru kubeli.Guling ini, ada boneka di jahitan atasnya. Boneka telepon khas drama film kartun One Piece, bentuknya lucu, seperti siput. Cih! Lagi-lagi ini mengingatkanku pada Deka, yang saat itu ingatan tentang wajahnya kuabadikan di esay "Once Upon a Time ini Yos Sudarso". Esay bersambung yang dilanjutkan dengan "After Yos Sudarso" serta "Gadis Siput Upset".Hmm.Tadi pagi, Bang Hen menelepon, dia menanyakan keadaanku dan aku bertanya tentang keadaan keluarga di West Sumatra. Daerah kelahirannya. Rumahku. Kampung halaman yang selalu saja memanggil-manggil untuk pulang. Berkali-kali aku nyaris tersandung dan hampir j…

Latar Belakang si Puella Roris

Pada Epilog, orientalis berkata bahwa dia tidak suka budaya Minang. Padahal sebaliknya, ia justru heran, karena para pemikir cemerlang Indonesia mayoritas berasal dari daerah tersebut. Dan "heran", tentu karena ada rasa ketertarikan.Orang-orang Minang, menjalani hidupnya di antara Badai Kegelisahan serta Kutukan Waktu. Kutukan Waktu, adalah yang membuat mereka selalu santai dalam bekerja. Menjalankan hari-hari mereka.Saya sempat merasa bahwa ini adalah semacam sifat malas, yang terbudaya dalam diri orang Minang. Keburukan-keburukan selain mereka yang menyenandungkan lagu-lagu kesedihan sebagai seni, serta turut mengaplikasikan seni tersebut dengan mengejek dan menertawakan orang memakai lagu-lagu itu. Misalnya ketika ada orang yang memakai bahasa Indonesia dengan aksen formal, terkesan dari Jakarta, dan penampilannya sangat rapi dan bergaya, tapi tak pernah sedikit pun mencoba bahasa Minang; mereka akan menyanyikan lagu Takicuah di Nan Tarang (semacam lagu bertema orang-oran…